Sejarah Negeri Lilibooi.
SEJARAH NEGERI LILIBOOI
Menurut cerita lisan yang berkembang dalam masyarakat Lilibooi, pada zaman dahulu ada sekor ular besar di Pulau Seram yang menunjukan kekuasaannya dengan membunuh semua buaya di Pulau itu. Dengan kata lin ular besar itu tidak dapat dikalahkan oleh buaya-buaya di Pulau Seram. Untuk mengalahkan ular besar itu, diminta bntuan dari buaya Kainaman dari dari muara sungai sikabiri. Dan kenyataannya menurut cerita buaya Kainaman ini sanggup menewaskan ular itu.
Begitu tenarnya buaya Kainaman (Lilioya Kainaman) ini sehingga tempat sekitar sungai sikabiri yang kemudian ditempati oleh para datuk pendiri Negeri Lilibooi yang berasal dari Pulau Seram (Nusa Ina) ini disebut LILIPOYA sesuai dengan bahasa mereka.
Dalam perkembangan selanjutnya sebutan Lilipoya mengalami perubahan ejaan. Hal ini antara lain desebabkan oleh ucapan bangsa-bangsa barat, dan bahkan ucapan tersebutu berubah dari generasi ke generasi dan terjadilah sebutan yang sekarang dkenal dengan LILIBOOI.
Sehubungan dengan uraian di atas jelaslah bahwa mereka yang memberi nama Negeri Lilibooi ini berasal dari Pulau Seram. Bahasa yang dipakai untuk nama itu adalah bahasa Seram. Mereka inilah yang mula-mula tiba di Negeri Lilibooi.
Selanjutnya perlu diketahui bahwa kata “Negeri” menurut kebiasaan dipakai di depan kata tempat kediaman suatu kesatuan manusia yang berkumpul, khususnya di pulau Ambon dan sekitarnya. Kadang-kadang dipakai juga kata atau istilah “Kampung”. Istilah Negeri berasal dari bahasa Portugis yaitu “Negori”. Sedangkan istilah Kampung berasal dari bahasa Belanda yaitu “Kamp”.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas para leluhur (datuk-datuk) mendiami Negeri Lilibooi ini berasal dari Pulau Seram (Nusa Ina). Mereka adalah orang ALIFURU yaitu suatu suku di antara suku-suku bangsa di Pulau Seram yang sangat buas dan kejam. Hal ini dapat dibuktikan ketika dalam seni tari yang masih hidup dalam masyarakat Lilibooi masih ada suatu tari yang dianggap terkenal dan keramat yaitu CAKALELE ALIFURU.
Mereka yang mula-mula tiba di tempat yang sekarang disebut Lilibooi ini adalah tiga orang tua bersama keluarga-keluarganya. Ketiga orang tuai ini disatukan dalam gelar MUTELU (tiga orang tua mula-mula) mereka mempunyai keturunan di Negeri Lilibooi dan memakai fam HETHARION, MARLISSA dan TALAHATU. Fam atau yang disebut juga Marga adalah istilah di Maluku dalam Ethnologi disebut STAM. Jadi datuk-datuk dari tiga Fam ini adalah orang tua pada mulanya yang mendiami Negeri Lilibooi. Hingga saan ini MUTELU masih digunakan untuk ketiga Fam ini dan disebut sebagai “Tuan Tanah”. Peran ketiga Fam ini namapak jelas dalam upacara-upacara adat yang biasa berlangsung di Negeri Lilibooi.
Yang mula-mula tiba di atas gunung LATUA adalah nenek moyang dari fam Hetharion dan Marlissa. Dari beberapa cerita lisan diperoleh keterangan bahwa nenek moyang mereka itu seorang bernama ASBELA dan yang lain bernama MAREHE. Sangat disesalkan bahwa tidak dapat dipastikan siapa yang mempunyai keturunan Hetharion dan siapa yang mempunyai keturunan Marlissa. Hal itu disebabkan tidak diketahui suatu daftar silsilah yang baik dan memang sudah tidak ada karena sebenarnya silsilah mereka sudah tercatat dengan baik dalam sebuah buku, namun buku tersebut bersama dengan benda-benda penyembahan (berhala) lainnya sudah ditenggelamkan oleh pekabar injik Joseph Kam di teluk Ambon antara tanjung Allang dan tanjung Nusaniwe.
Kemudian menyusul datang dari seram nenek moyang dari fam Talahatu. Nenek moyang ini mendarat di pesisir pantai sebelah barat jazirah Leihitu di tempat yang sekarang bernama TAPI yang artinya kain. Dinamakan demikian karena di tempat ini kain selimutnya tertinggal. Nenek moyang ini mendaki ke gunung dan di sana ia berdiam sendiri kemudian dia ditemukan oleh nenek moyang dari Hetharion dan Marlissa. Nenek moyang Talahatu ini diterima dan tinggal bersama-sama sebab mereka memiliki bahasa yang sama oleh karena mereka sama-sama berasal dari Pulau Seram. Dengan demikian ketiga nenek moyang inilah yang kemudian hari diberi gelar Mutelu oleh para anak cucu mereka.
Mereka berdiam di atas gunung Latua yang oleh anak cucu mereka tempat kediaman itu disebut KOTA RONE tetapi para datuk Mutelu memberi nama tempa itu INA KAMU (Ina artinya tempat dan kamu berarti kabut). Dinamakan demikian karena tempat kediaman mereka itu ditutupi kabut. Karena gunung Latua berada pada ketinggian 930 meter diatas permukaan laut sehingga walaupun pada siang hari gunung itu selalu diselimuti kabut.
2.2. Bentuk Kepercayaan Masyarakat Negeri Lilibooi Mula-mula.
Menurut buku Sejarah Gereja Jemaat Lilibooi yang disusun oleh Pdt. M. D. Gardjalay, Sm.Th dengan berpedoman pada nama-nama yang dipakai untuk menyebutkan anak-anak mereka dalam gelar mereka, diduga bahwa kemungkinansebelum mereka tiba di jazirah Leihitu dan berdiam di gunung Latua yaitu di Ina Kamu. Mereka sudah di Islamkan terlebih dahulu di Negeri asal mereka di pulau Seram. Diduga Negeri asal mereka adalah Negeri Luhu, kampong Islam tertua di Seram barat, atau kemungkinan saja terjadi bahwa sewaktu mereka tiba di pesisir barat jazirah Leihitu, anak-anak mereka itu di Islamkan sedangkan mereka tetap kafir dan hal ini masih memerlukan penelitian dan pembuktian lebih lanjut.
Namun suatu hal yang pasti ialah bahwa mereka tetap dianggap masih menganut paham Animisme atau masih kafir ketika mereka tiba di Ina Kamu sampai mereka berpindah tempat. Oleh kaena tidak terdapat tanda-tanda atau bekas peniggalan yang memperlihatkan adany upacara agamawi secara Islam yang dilakukan.
Kondisi Geografis
Negeri Lilibooi secara administratif berada pada sebagian kecil wilayah Kecamatan Leihitu Barat Kabupaten Maluku Tengah. Negeri Lilibooi terletak di bagian barat Kecamatan Leihitu Barat yang secara geografis terletak pada:
- Sebelah utara berbatasan dengan petuanan Negeri Ureng
- Sebelah selatan berbatasan dengan Teluk Ambon
- Sebelah timur berbatasan dengan petuanan Negeri Hatu
- Sebelah barat berbatasan dengan petuanan Negeri Allang
Secara geografis Negeri Lilibooi berada pada posisi 3֯43’21” LS - 3֯45’56” LS dan 128֯01’10” BT - 128֯01’10” BT.
Dikutip dari BAB II Skripsi a.n.
Marlen Kakisina, S.Ag
Comments
Post a Comment